iklan

PT PAL Perkenalkan Kapal 'Perusak', Ini Kehebatannya

iklan
Jakarta -PT PAL Indonesia (Persero) hari ini memperkenalkan 2 jenis kapal perang yakni Strategic Sealift Vessel (SSV) pesanan militer Filipina dan kapal Guided Missile Frigate/Perusak Kawal Rudal (PKR) pesanan TNI AL.

Untuk PKR, PAL memperkenalkan kapal perang varian 'perusak' tercanggih yang khusus difungsikan untuk pertempuran, berbeda dengan SSV yang hanya untuk supporting perang dan non perang.




(feb/hns)


RI Bisa Bikin Kapal Perang Canggih, Ini Kata Rizal Ramli


RI Bisa Bikin Kapal Perang Canggih, Ini Kata Rizal Ramli
Surabaya -Industri dalam negeri saat ini sudah bisa mengembangkan dan memproduksi alat utama sistem senjata (alutsista) canggih seperti kapal perang. Tak sampai itu, PT PAL Indonesia berhasil menjual kapal perang jenis Strategic Sealift Vessel (SSV) kepada militer Filipina.

Terbaru, PAL meluncurkan kapal perang perusak berjenis Guided Missile Frigate/Perusak Kawal Rudal (PKR). Untuk meningkatkan kemampuan, PAL juga melakukan transfer of technology dengan produsen kapal dunia.

Melihat kemampuan ini, Menko Maritim dan Sumber Daya, Rizal Ramli menyebut hal ini sebagai keunggulan industri pertahanan RI seperti PAL. Selain teknologi yang tak kalah bersaing, harga produk alutsista Indonesia juga jauh lebih kompetitif daripada mengimpor alutsista.


"Di masa lalu, angkatan bersenjata kita senangnya impor alutsista, beli dari luar negeri. Tapi harganya sering kemahalan. Menhan kita (Ryamizard Ryacudu) saat ini fokus beli dari dalam negeri. Ini akan membantu industri kita sendiri," ujar kata Rizal Ramli seusai peluncuran Kapal Perang PKR ke-1 dan SSV ke-1 serta Keel Laying SSV ke-2 di Divisi Niaga PT PAL, Surabaya, Senin (18/1/2016).

Di tempat yang sama, Menteri Pertahanan, Ryamizard Ryacudu membenarkan apa yang dikatakan Rizal. TNI saat ini berusaha semaksimal mungkin membeli alutsista dari industri dalam negeri seperti PAL dan galangan kapal lainnya.

"Kita membuat sendiri baik di PAL dan galangan-galangan lain," ujar Ryamizard.

Ryamizard menambahkan bahwa angkatan darat sudah membuktikan sendiri ketangguhan alutsista buatan dalam negeri seperti panser ANOA buatan PT Pindad (Persero), terbaru BUMN senjata yang bermarkas di Bandung ini berhasil memproduksi panser jenis Badak.

Untuk pemenuhan alutsista di TNI Angkatan Udara, Kemenhan sedang mengembangkan jet tempur secara mandiri. Kemenhan menujuk PT Dirgantara Indonesia (PTDI) berkolaborasi dengan Korea Aerospace Industries (KAI) untuk mengembangkan dan memproduksi jet tempur generasi 4.5 bernama KFX/IFX.

"Kita kerjasama dengan Korea, transfer tekonologi. 5-6 tahun ke depan diharapkan kita sudah bisa buat pesawat tempur," tutup Ryamizard.


(iwd/feb/finance.detik)



iklan
iklan
Iklan